
Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya.
Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih.
Cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya.
Jadi jangan terburu-buru, dan pilihlah yang terbaik.
Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang "sempurna" bagi seseorang.
Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri.
Dan karena itu kamu sempurna.
Jangan pernah bilang "I love you" kalau kamu tidak perduli.
Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada.
Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya.
Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya kebohongan.
Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya...
Cinta bukan, "Ini salah kamu"
Jika kamu mencintai seseorang, jangan berharap bahwa seseorang itu akan mencintai kamu persis sebaliknya dalam kapasitas yang sama. Satu di antara kalian akan memberikan lebih, yang lain akan dirasa kurang...
Ketika kamu sdg bersama dia, kau berlagak mengacuhkannya. Tapi
ketika dia tidak ada, kamu berusaha mencarinya. Pada saat itu, kamu
sedang jatuh cinta
Walaupun ada orang lain yg selalu membuatmu tertawa, mata dan
perhatianmu hanya tertuju pada si dia. Maka, kamu sedang jatuh cinta
Walaupun seharusnya dia sudah meneleponmu untuk memberitahu
kabarnya, tapi teleponmu tak berdering. Dan kau terus menunggu
telepon itu. Pada saat itu, kamu sedang jatuh cinta.
Jika kamu lebih tertarik dengan e-mail pendek darinya daripada
e-mail yg panjang dari orang lain, kamu sedang jatuh cinta.
Jika kamu tak bisa menghapus smua sms dlm hpmu karena ada 1 sms dari dia, maka kamu sedang jatuh cinta
Ketika kamu mendapat sepasang tiket gratis menonton film, kamu tidak
akan pusing2 untuk langsung mengajak dia. Pada saat itu kamu sedang
jatuh cinta
Kamu selalu bilang pada dirimu," dia hanyalah temanku ", tapi kamu
menyadari kamu tidak bisa menghindari daya tariknya. Pada saat itu,
kamu sedang jatuh cinta.
Jika kamu sedang membaca message ini dan seseorang muncul dalam
pikiranmu, maka kamu sedang jatuh cinta pada orang itu.
Selengkapnya...
buat kalian nih para cowo ....
1. .kalian para cowo suka ngedumel ngomel2 klo qta para cewe suka dandan lama….kalian harusnya tau apa maksud dibalik itu…cewe slalu pengen tampil perfect di depan cowonya..kalian ga maw kan klo cewe kalian penampilannya brantakan…toh itu smua cewe lakuin buat kalian juga….
2. cowo suka marah ama qta para cewe Cuma karena qta suka ngomong “terserah” klo ditanya…kalian harus tau qta bukannya ga peduli ataw males jawab pertanyaan kalian…malah karena qta peduli qta takut klo qta nantinya bakalan salah ngambil keputusan dan bakalan ga sesuai dng apa yg kalian mau…mk nya mending qta serahin jawabannya ke kalian…toh kalian jg ditakdirrkan sbg pemimpin bukan….
3. tau ga sebenernya qta tau klo kalian kadang klo lg jalan sama qta suka lirik sana sini klo ada cewe lain yg lebih dr qta…qta sih ga pernah ngeluh or marah k kalian..tp kalian sadar gas sih kelakuan kalian itu bias bikin qta ngedown…
4. hey kalian para cowo..qta para cewe paling ga suka klo disuruh milih antara pacar atau temen…qta hidup ga sendiri perlu sosialisasi juga..dng ngekang qta para cewe secara ga langsung kalian bikin qta pergi perlahan dr kehidupan kalian…
5. qta para cewe ga suka klo ruang gerak qta dibatasin…di larang sana sini... alesan klise cowo ngelarang qta ini itu biasanya : “ sayang aku ga mau km knp2 “ basi banget,,,,...listen cm tuhan yg tau apa yg bakal terjadi ntar...try to positive thinking guys...!! coba deh balikin keadaannya..apa kalian juga mau klo qta larang kalian untuk maen ama tmn2 kalian?
6. tolong yah kalian para cowo cinta ga melulu identik dengan sex...cowo yg bener2 sayang ama cewenya pasti bakalan ngejaga kehormatan cewe nya bukan malah ngambil kehormatannya......
7. kadang suka heran ama cowo yg kadang suka nuntut cewenya harus masih virgin saat nikah nanti.. padahal dirinya sendiri juga blm tentu masih perjaka...curang banget yah...
8. qta juga ga suka klo kalian nyeritain masalah “privacy “( apa yg udh kalian para cowo dan qta para cewe lakuin saat pacaran ) ama temen2 kalian...sama aja kalian udh ngerendahin qta sebagai cewe dimata tmn2 kalian...
9. kalian para cowo suka balik marah klo qta para cewe tiba2 ngediemin dan ngejutekinkalian….hey guys harusnya kalian introspeksi diri cari kesalahan apa yg udh kalian perbuat ampe qta ky gni…bukannya malah balik marah dan ngediemin qta juga…qta para cewe ga selalu marah dengan ngeluarin kata2…jd harusnya kalian jug abs lebih peka…toh klo klian sadar apa salah kalian dan minta maaf.. qta juga pasti maafin…
sorry yah klo ada yg kesinggung ataw apa....gw Cuma pengen kalian para cowo lebih ngehargain qta para cewe...hormatin cewe kalian kaya kalian hormatin ibu kalian...cobalah untuk lebih sensitive make persaan bukan cuma logika dan nafsu yg kalian pake...
"Bayangkan hidup sebagai sebuah permainan dimana anda melemparkan lima buah bola ke udara. Anda menamakannya - pekerjaan, keluarga, kesehatan, teman-teman dan semangat, dan anda menyimpan semua hal tersebut di udara. Anda akan segera mengerti bahwa pekerjaan itu seperti sebuah bola karet. Jika anda menjatuhkannya, bola itu akan melambung kembali. Tetapi keempat bola yang lainnya - keluarga, kesehatan, teman-teman dan semangat adalah terbuat dari gelas atau kaca. Jika Anda menjatuhkan salah satu dari keempat hal tadi maka anda tidak akan bisa memperbaikinya, atau bahkan hancur, tidak akan bisa sama seperti semula. Anda harus mengerti hal tersebut dan mengusahakannya untuk keseimbangan hidup anda.
Bagaimana :
1. Jangan mengurangi harga dirimu dengan membandingkan dirimu dengan orang lain. Itu karena kita semua berbeda dimana setiap orang dari kita adalah spesial.
2. Jangan menunda tujuan-tujuan anda dengan tujuan orang lain yang mereka anggap penting. Hanya anda sendiri yang mengetahui apa yang terbaik bagi anda.
3. Jangan mengambil resiko untuk hal-hal yang dekat dengan hati anda. Berpeganglah teguh pada hal tersebut seperti pada hidup anda, karena tanpa mereka, hidup anda tidak berarti.
4. Jangan membiarkan hidupmu tergelincir pada masa lalu ataupun berpaku pada masa depan. Dengan merasakan hidup anda saat ini, anda akan merasa hidup sepanjang waktu dalam kehidupan anda.
5. Jangan menyerah disaat Anda masih memiliki sesuatu untuk diberikan. Tidak ada segala sesuatu yang berlebihan untuk diberikan sampai pada saatnya Anda berhenti mencoba.
6. Jangan merasa takut untuk mengakui bahwa anda tidak sempurna. Hal ini merupakan jalan yang mudah untuk berhubungan satu sama lain.
7. Jangan takut untuk menghadapi segala hambatan. Hal ini memberikan anda kesempatan belajar bagaimana untuk lebih berani menghadapi segala resiko.
8. Jangan menutup diri dari cinta dalam hidupmu. Salah satu cara tercepat untuk menerima cinta adalah memberi; salah satu cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah memegangnya terlalu erat; dan salah satu cara terbaik untuk mempertahankan cinta adalah dengan "memberinya sayap."
9. Jangan "lari" terlalu cepat dalam hidup anda sehingga anda tidak hanya akan melupakan dari mana Anda berasal, tetapi juga kemana Anda akan pergi.
10. Jangan melupakan bahwa kebutuhan emosi seseorang adalah merasakan adanya penghargaan.
11. Jangan takut untuk belajar. Pengetahuan tidak mempunyai berat, sesuatu yang berharga yang bisa anda bawa dengan mudahnya.
12. Jangan menggunakan waktu atau kata-kata dengan ceroboh. Sekalipun tidak dapat dikembalikan. Hidup bukanlah sebuah balapan, melainkan sebuah perjalanan untuk dinikmati dalam setiap langkahnya."
Selengkapnya...
ku berjalan menyusuri setapak demi setapak jalan fatamorgana yg begitu indah namun menyilaukan mata ini hingga ku tertipu...
berkali kali ku jatuh dan tersungkur...
aku lelah...
entah dimana akhir perjalanan ini...
cinta...
akupun lelah dg cinta yg semu dan melenakan hati yg telah rapuh..
membuat jiwaku yg telah begitu keropos menjadi sekarat dan hampir mati...
aku ingin penantian ini akan segera berujung wlo ku takut kan ada hati yg lain yg terluka...
dia.... yg tulang rusuknya ku bawa lari...
dimanakah??
siapakah....??
sedang apa....??
bukan ku hendak melukis bayangmu atau mengukir namamu...
namun aku RINDU...
Selengkapnya...
Foto oleh Kevvity
Anthony Robbins pernah mengatakan dalam salah satu bukunya bahwa berpikir sebetulnya adalah proses bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Beliau kemudian menambahkan bahwa orang-orang yang sukses adalah mereka yang selalu bertanya pada dirinya sendiri.
Berikut adalah 101 pertanyaan untuk membuat hidup anda luar biasa :
1. Apa yang saya inginkan?
2. Untuk hal-hal apa saja saya berterima kasih?
3. Apakah yang hilang dalam hidup saya?
4. Apakah saya melihat hal-hal baru di dunia ini setiap hari?
5. Apakah saya menyediakan sedikit waktu untuk mendengarkan orang lain?
6. Apakah saya cukup bersenang-senang?
7. Bagaimana saya menjadikan hidup ini lebih ceria?
8. Apa yang saya inginkan lebih dalam hidup?
9. Apa yang tidak terlalu saya inginkan dalam hidup?
10. Apakah saya selalu mencari peluang-peluang?
11. Apakah saya menangkap peluang-peluang yang ada?
12. Apakah saya mempunyai pikiran yang terbuka?
13. Apakah saya cukup fleksibel?
14. Apakah saya cepat menghakimi orang lain?
15. Apakah saya selalu memperhitungkan resiko?
16. Apakah saya tulus memuji orang lain?
17. Apakah saya menghargai apa yang orang lain lakukan untuk saya?
18. Ke tempat mana sajakah saya ingin pergi?
19. Siapa sajakah orang yang ingin saya jumpai?
20. Petualangan apa sajakah yang ingin saya ikuti?
21. Apakah saya peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang saya?
22. Apakah saya cepat tersinggung?
23. Apakah yang membuat saya bahagia?
24. Adakah hal yang saya tunda?
25. Apakah saya selalu memikirkan diri sendiri?
26. Apakah saya suka menyimpan dendam?
27. Apakah saya selalu mengingat-ngingat masa lalu?
28. Apakah saya membiarkan pikiran negatif orang lain mempengaruhi saya?
29. Apakah saya bisa memaafkan diri sendiri?
30. Apakah saya cukup sering tersenyum?
31. Apakah saya cukup sering tertawa?
32. Apakah saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang positif?
33. Apakah saya orang yang positif?
34. Apakah saya menyediakan cukup waktu untuk merawat diri?
35. Apakah ambisi rahasia saya?
36. Apakah yang ingin orang-orang ingat tentang saya di akhir hidup nanti?
37. Apakah arti sukses untuk saya?
38. Bagaimana saya dapat memberi arti bagi hidup orang lain?
39. Bagaimana saya dapat melayani sesama?
40. Hal apakah yang dapat saya lakukan lebih baik dibandingkan orang lain?
41. Apakah 3 kekuatan terbesar saya?
42. Apakah saya bergerak menuju ke pencapaian mimpi-mimpi saya?
43. Apakah saya menceritakan pada orang lain apa yang sungguh-sungguh saya inginkan dalam hidup?
44. Seperti apakah rupa hari yang indah menurut saya?
45. Ingin seperti apakah anda 1 tahun lagi? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? 20 tahun lagi?
46. Seperti apakah bentuk lingkungan untuk hidup yang baik menurut saya?
47. Apakah yang ingin saya perbuat jika saya tidak mempunyai rasa takut?
48. Apakah yang ingin saya perbuat jika uang bukanlah hal yang penting?
49. Alasan-alasan apa sajakah yang sering saya ucapkan?
50. Apakah saya menikmati apa yang saya lakukan sehari-hari?
51. Apakah saya berada di jalan yang benar?
52. Apakah saya meyayangi diri sendiri?
53. Apakah saya baik pada orang lain?
54. Apakah saya mengambil sesuatu tanpa imbalan?
55. Apakah saya sedang melakukan hal yang paling penting saat ini?
56. Apakah ada hal-hal dalam hidup yang perlu saya beri perhatian lebih?
57. Apakah saya sudah menggunakan waktu saya dengan sebaik-baiknya?
58. Apakah yang bisa saya lakukan saat ini yang dapat membuat perbedaan terbesar dalam hidup?
59. Apakah yang sedang saya hindari?
60. Hal-hal apa sajakah yang saya bisa bertoleransi?
61. Apakah saya membuat tujuan-tujuan yang jelas dengan batas waktu pencapaiannya?
62. Apakah saya memegang janji-janji yang telah saya buat pada diri sendiri?
63. Apakah saya memegang janji-janji yang telah saya buat pada orang lain?
64. Jika saya ingin kehidupan saya sempurna, apakah yang harus saya rubah?
65. Apakah yang sedang saya cari sungguh-sungguh saat ini?
66. Bagaimana saya membuat hidup saya lebih sederhana?
67. Kegiatan apa saja yang saya lakukan tetapi saya tidak menikmatinya? Apakah kegiatan tersebut sungguh-sungguh harus dilakukan? Dapatkan saya mendelegasikannya atau membayar orang lain untuk melakukan itu?
68. Apakah saya melihat diri saya sebagai seorang yang cukup kreatif?
69. Apakah saya membiarkan diri saya untuk menjadi orang yang kreatif?
70. Dapatkah saya menjadi seseorang yang spontan?
71. Apakah saya terlalu kritis pada diri sendiri?
72. Apakah saya terlalu kritis pada orang lain?
73. Apakah saya dapat melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda?
74. Hal-hal apa sajakah yang telah saya selesaikan?
75. Hal-hal apa sajakah yang menjadi sumber stress dalam hidup?
76. Bagaimana saya dapat mengurangi stress dalam hidup?
77. Kemana sajakah uang saya dipergunakan?
78. Bisakah saya mengelola keuangan saya?
79. Punyakah saya rencana keuangan untuk masa depan?
80. Untuk apa sajakah waktu saya dipergunakan?
81. Sudahkah saya membuat sistim pengelolaan waktu yang efisien?
82. Apakah 3 prioritas terbesar saya dalam hidup?
83. Siapakah orang terpenting dalam hidup saya?
84. Siapakah yang mencintai saya?
85. Siapakah yang peduli kepada saya?
86. Untuk siapakah anda bekerja keras?
87. Apakah tempat tinggal dan lingkungan kerja saya telah diatur sedemikian rupa sehingga memberi kenyamanan pada saya?
88. Apakah saya mempunyai pola hidup yang sehat?
89. Apakah saya sering terbawa emosi?
90. Apakah saya dapat melupakan kesalahan-kesalahan yang telah saya buat di masa lalu?
91. Apakah saya mengijinkan diri saya untuk melakukan kegagalan?
92. Apakah saya mempelajari kegagalan-kegagalan saya?
93. Apakah saya cepat menanggapi ketika sesuatu berjalan tidak semestinya?
94. Apakah keyakinan-keyakinan saya telah bekerja dengan baik?
95. Apakah saya melonggarkan aturan-aturan yang telah saya buat untuk diri sendiri dan orang lain?
96. Apakah impian masa kecil saya yang terlupakan?
97. Siapa sajakah idola/tokoh yang saya tiru?
98. Apakah saya asli? Apakah saya menjadi diri saya sendiri atau sedang mencoba menjadi seseorang yang lain?
99. Bagaimana jika …?
100. Mengapa tidak …?
101. Bagaimana saya dapat …?
http://www.akuinginsukses.com/
Selengkapnya...
13 April 1999
"Vie, kamar mandi sudah bersih"
Ibu muncul dari balik pintu mengagetkanku. Aku tersenyum tipis, mengangguk, menyembunyikan gurat kesedihan yang selalu meneteskan air mata ibu.
"Iya, Bu!" jawabku.
Usapan lembut ku terima dari tangannya. Dan aku tidak beranjak. Kutatap langit-langit kamar tua yang lama tak berpenghuni ini. Pertama kalinya aku menginjakkan kaki sejak tujuh tahun lalu sepeninggal eyang. Tak ada satu pun anak-anak eyang -termasuk ibuku- berminat menempati rumah tua ini. Aku maklum. Rumah ini jauh terpencil di pedesaan. Untuk mencapainya pun harus naik dokar dan melewati daerah perbukitan dengan hamparan ladang-ladang tembakau yang menghijau.
Suasana rumah ini sangat tenang. Begitu alasanku memilihnya sebagai tempat menunggu ajal. Aku berharap orang-orang di sini akan lebih bisa menerimaku. Tidak seperti aku saat di jakarta. Aku sudah tak tahan lagi dengan cercaan, cibiran, juga sikap jijik orang-orang padaku sejak virus aids itu bersarang di tubuhku. Apalagi tuduhan pelaku seks bebas itu. Pakaian taqwa yang selalu rapat menutup auratku ternyata tidak cukup membuat orang-orang sekitarku berfikiran positif. Batinku menjerit meski sebenarnya tak seratus persen aku menyalahkan mereka. Sebulan yang lalu seorang muslimah berjilbab yang kost di sebelah rumah di gerebek karena melakukan seks bebas di kamarnya.
Dan aku ingat benar dengan tetangga rumah yang langsung pindah rumah sejak mengetahui aku mengidap aids. Beberapa orang juga menghindariku, bahkan untuk tersenyum pun serasa aku tak punya tempat lagi. Dan ku kira tak ada yang bisa kusalahkan dengan takdir ini. Transfusi darah saat Hb-ku anjlok (turun) jadi 5 pun hanya kuanggap sebagai jalan dari Allah, aku menerima cobaan ini. Makanya, aku tak ingin keluargaku ngotot dan mengangkat kasus ini ke pengadilan. Biarlah, aku ikhlas .
"Bismillahirahmanirrahiim "
Aku kembali menguatkan tekad untuk tinggal di sini. Ibu dan ayah ikut untuk menemaniku. Mereka meninggalkan usahanya di Jakarta. Demi aku. Dua orang kakakku tetap tinggal di sana karena harus menyelesaikan kuliah S-2 nya. Namun, mereka pun berjanji akan sering pulang ke desa. Juga demi aku.beruntung aku masih memiliki orang-orang tercinta, yang mendampingi kala aku butuh dukungan.
17 Juli1999
Mbak Vie !!! Mbak Vie !!! Suara teriakan anak-anak dari luar menyentakkanku. Baru saja juga aku sampai dari rumah Bu RT, mengajari para remaja putri Karang Taruna membuat bunga dari bahan-bahan daur ulang. Mereka para remaja pengangguran jebolan SMP yang saat ini menggantungkan penghidupan dari daun-daun temabakau. Kebetulan masa panen belum tiba sehingga waktu luang masih mereka miliki.
Aku membuka pintu yang sengaja ku tutup karena hawa dingin. Anak-anak kecil itu memenuhi pintu depan rumah. "Hari sudah gelap." Ingatku pada mereka yang datang pada saat menjelang maghrib itu.
"Mbak Vie, kita mau belajar Matematika."
Aku mengulum senyum. Ini baru berita baru. Anak-anak di sini jarang punya keinginan belajar. Mau sekolah saja sudah syukur. Kesadaran menuntut ilmu harus di bangun. Sekolah bukan hanya formalitas untuk mendapatkan selembar ijazah.
"Kalian sekarang pulang, ambil mukena, shalat maghrib ke langgar, dan kita belajar di sana ya!!" Tanpa banyak komentar mereka langsung berlarian pulang. Aku pun segera mengambil wudlu, dan berangkat.
"Vie, jaga kesehatan. Jangan pulang malam!" pesan ibu dari dapur.
Tapi, baru sampai di depan pintu perutku tak mampu kutahan. Diare lagi. Kuingat juga, semua terjadi sejak penyakit datang. Dan kebiasaan itu menyusahkanku apalagi jika datang saat-saat aku di langgar, pertemuan Karang Taruna, atau mengisi pengajian. Apalagi kalau demam itu datang tiba-tiba. Rasanya badan seperti tertusuk-tusuk jarum.
#####
Dan begitulah hari-hari selanjutnya. Setiap sore anak-anak belajar di langgar usai maghrib sampai Isya'. Aku bahagia bisa berbagi dengan mereka meskipun ibu selalu mengkhwatirknku yang penuh kegiatan sejak pertemuanku dengan mereka. Aku ingin mengajari mereka keoptimisan. Aku ingin menunjukkan bahwa dunia itu luas, tidak hanya desa dan ladang-ladang tembakau saja. Aku ingin sekali mengajari mereka bermimpi dan bercita-cita. Bahwa menjadi orang hebat menjadi hak setiap orang, termasuk mereka. Bahkan bercita-cita untuk jadi presiden sekalipun.
5 Januari 2000
"Astagfirullahal'adzim," rintihku saat pisau itu menyayat kulit jariku.
"Hati-hati, Mbak Vie."
Warsi sahabatku segera meraih tanganku bermaksud menolongku. Ia tak tega melihat darh mengalir. Tapi segera kuelakkan dengan sedikit kasar. Warsi terkesima. Segera kututup luka itu dengan kerudungku. Dan aku berlari ke belakang meninggalkan mereka. Mungkin warsi tersinggung. Aku khawatir.
Di petak kamar mandi dari ghedeg (bambu) itu, aku tak bisa menyembunyikan semburan air mataku. Semakin perih. Bukan lukaku, tapi hatiku. Inikan hukuman buatku sehingga darah pun menjadi maut bagi orang lain, rintihku emosi. Darah pengidap aids bukan sembarang darah yang bisa sekenanya terpegang orang lain. dan aku terus menangis hingga habis suadah air mata itu mengalir.
23 September 2000
Masih lekat ku tatap langit-langit kamar tua itu. Dulu aku pertama kali mengenangnya dengan hati yang meradang. Saat ini pun aku terakhir kali mengenangnya dengan hati yang terluka. Perpisahan menjadi saat-saat yang menakutkanku. Ladang-ladang tembakau, perbukitan dengan kabutnya, hawa dingin, jalan-jalan yang meliuk menaik yang sering kutapaki untuk menemui orang-orang yang selalu mencintaiku, anak-anak yang selalu mendoakanku, Warsi sahabatku juga ibu dan ayahku.
Aku menunjukkan jemariku ke arah tape memberi tanda untuk membalikkan murrottal yang telah habis. Ibu menerima isyaratku.
"Tidurlah, Nak!" bisik ibu di telingaku.
Aku diam hanya menatapnya. Tulang-tulang yang tinggal menyusun ragaku terasa pilu. Dan pandanganku berputar pada foto wisuda SMA-ku yang terpasang di dinding. Kembang senyum dengan bibir memerah tanpa lipstik dan pipi yang masih segar tak lagi kumiliki.
"Beginikah hidup manusia?" tanyaku pada diri sendiri. dan sebentar lagi tulang-tulang yang tergolek di kasur itu akan di gerogoti binatang-binatang tanah. Lalu, kenapa manusia harus berbangga dengan kelebihan fisiknya?
Ku dengar suara ramai dari luar. Aku tidak heran. Seperti itulah, kamar dan rumah tua ini menjadi ramai dengan kunjungan orang semenjak aku sakit dan tergolek menanti maut begini. Tapi aku bahagia. Mereka adalah semangatku. Anak-anak yang setiap sore membacakan Al Baqarah, ibu-ibu yang yang selalu mengusap lembut kepala dan pipiku yang tak berdaging, juga kembang-kembang dari bahan daur ulang yang terpasang dari meja dari pemuda-pemuda Karang Taruna, kesetiaan Warsi sahabatku yang selalu menungguiku, serta air mata ayah ibuku. Aku bahagia bertemu mereka dan mendapat cinta mereka. Aku bahagia
Oleh : Kusmarwanti
(Sumber : Tabloid MQ EDISI 11/TH.II/MARET 2002)
Selengkapnya...
Teriakan Raka dari bawah balkon terdengar. Gadis tujuh belas tahun itu buru-buru meraih sepatu ketsnya. Kalau dia tidak turun ke bawah dalam lima menit, bisa-bisa si Bangor itu ngomel panjang lebar.
“Tikaaa .!!!”
Yang punya nama melongokkan kepalanya ke bawah. Satu telunjuknya menempel di bibir. Sekali lagi Raka teriak, Papa yang lagi sakit gigi bakal ngedamprat cowok satu itu habis-habisan.
“Mam, pergi dulu, ya?”Tika mencolek bahu Mama. Wanita setengah baya yang masih cantik itu mengangguk.
“Sama Raka kan?”Tika membenarkan.
Mama menarik nafas lega. Kalau Tika jalan dengan kawalan Raka yang berbadan besar itu, rasa-rasanya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka sudah berteman baik, tapi mereka pacaran! Namun, kala disinggung, Tika selalu mengelak.
“Ihh.. Mama kita kan cuma temenan!”
Begitu dalih putri tunggalnya itu setiap Mama dan Papa meledek. Lalu apa benar hubungan keduanya tak lebih dari itu? Mama tak bisa menebak.
***
“Tika, hari Minggu mau ke mana?”
Raka menjawil bahu Tika. Saat itu mereka lagi nongkrong di kantin. Asyik menikmati air kelapa muda.
“Enaknya ke mana ya, Ka? Gue lagi malas joging. Eh kita ngamen, yuk?”
Raka mengucek poni Tika gemas. Ini anak ada saja ide gilanya!
“Katanya mau mulai alim, biar kayak Mbak Ratna!? Masa sekarang pengen ngamen sih?”
Tika kena batunya. Yang disebut Mbak Ratna itu kakak kelas mereka, aktivis rohis yang dihormati Tika karena keanggunan dan sikap bijaksananya. Tapi lagi-lagi Tika selalu bisa berkelit.
“Eh, emangnya kenapa? Sekali-kali punya kegiatan berbeda dong! Lagian, ngamen hari Minggu kan enak. Kagak ada pelajarnya. Namanya juga cari nafkah. Yang penting halal! Kali aja dapat uang lebih gede!”dengus Tika cuek.
“Ah .. mending lo gue kasih noban deh, gratis daripada ngamen! Gue aduin Mama,lho!”
“Aduin aja! Paling doi minta ikutan! He he he!”Gadis kelas dua es em u itu malah menantang.
Raka lagi-lagi geleng kepala. “Gue serius, soalnya gue mau naik gunung hari Sabtu. Mau ikut?”
“Sama siapa lagi? Lo ajak si Koko sama Ari deh. Nanti gue ajak si Laras. Gue ingin kenalin, tuh anak, sama ulet bulu! He he he ..”Raka memandang Tika serius.
“Kalo berdua memangnya kenapa? Gue kan cowok baik-baik lagi!”suara Raka tegas. Tika menghentikan kesibukannya mengunyah kelapa muda.
“Tapi .. kayaknya nggak bisa Ka, anak-anak rohis mau bikin acara rujakan sambil silatulrahmi dengan anak kelas satu. Eh, lagian, kalau jauh gitu jangan cuma berdua Ka, nggak enak. Entar kita dikira pacaran lagi!”
Deg! Dada Raka berdetak. Pacaran?
Sejauh ini memang banyak yang mengira mereka berdua pacaran. Hampir nggak ada yang percaya sama penjelasannya bahwa dia dan Tika cuma teman baik.
Si koko misalnya, berkali-kali dia meledeknya sebagai cowok yang setia.”Setia nih ye.. lo nggak bosen bareng Tika doang selama bertahun-tahun ini?”
Atau..
“Gile lo Ka, awet ama sih sama si Tika!”
“Apa sih resepnya bisa nggak putus-putus selama lima tahun lebih?”
Resepnya? Waktu itu Raka cuma menyahut asal, “Supaya nggak putus-putus? Jangan jadian dong! Pasti nggak bakal putus!”
Tapi, tetap nggak ada seorang teman pun yang percaya. Setelah beberapa kali mencoba menjelaskan, akhirnya Raka menyerah. Membiarkan orang-orang sekitar mereka yang menganggap mereka pacaran. Hal serupa menimpa Tika. Gadis imut itu juga sering mendapat pertanyaan serupa. Tapi bukan Tika kalau tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padanya dengan baik.
“Tik, lo benar ya, pacarnya Raka?” Waktu Nona nanya begitu, Tika langsung pasang muka misterius.
“Nona pengen tahu?”
Dan si gadis hitam manis itu pun mengangguk. Tika langsung menadahkan tangannya, sambil pasang muka melas, “Cepek dulu dong!”
Kali yang lain si rese Laras yang penasaran. “Tik, serius nih. Gue naksir sama Raka. Jadi gue perlu tahu dia pacar loe apa bukan?”
Tika sengaja diam. Dan Laras harus mengulang pertanyaannya tiga kali sebelum mendapat jawaban dari gadis itu.
“Nngg .. jawabannya multiple choice. Lo pilih sendiri aja, ya? a. pacaran b. hampir pacaran c. tunangan d. suami-istri, e. bukan salah satu di atas. Nggak usah buru-buru jawabnya Ras. Soalnya nggak ada hadiahnya, kok!”
Begitulah, baik Tika maupun Raka membiarkan orang sekitar mereka bingung dengan kedekatan keduanya. Sebetulnya, dahulu mereka sudah pernah menjelaskan, kalau Tika dan Raka cuma sohib baik doang. Eh, begitu mereka menjelaskan yang benar, justru banyak yang nggak percaya. Capek, akhirnya kedua anak muda itu malah jadi suka asal kalau ada yang menanyakannnya.
Mereka memang bukan sepasang sejoli. Setidaknya belum. Tapi , entah mengapa, baik Tika maupun Raka belum ada yang kecantol orang lain. Jadi sebetulnya, gimana sih perasaan keduanya?
Ide itu akhirnya muncul begitu saja. Anehnya, bukan dari Tika yang biasanya suka mengeluarkan ide-ide aneh, tapi justru dari Raka. “Tik, kita pura-pura pacaran aja, yuk?”
Tika sempat bingung.
“Kamu kenapa sih, Raka? Kok, tiba-tiba aneh begitu?” Raka mengangkat bahu.
“Ya, kita coba saja, cuma pura-pura ini. Masalahnya, kayaknya cuma kita doang, deh yang belum pacaran. Temen-temen yang lain sudah punya gandengan.”
Tika yang akhir-akhir ini dekat dengan Mbak Ratna, ketua keputrian mereka sebetulnya merasa agak nggak enak. Nggak pacaran saja sudah sering mendapat tausiyah karena bersahabat dengan Raka.
“Biar bagaimanapun Tika ”ucap Mbak Ratna suatu hari padanya, “sulit sekali menemukan persahabatan yang tulus dengan lawan jenis. Percaya deh, sama Mbak!”
Waktu itu Tika berdalih,”Sulit bukan berarti nggak bisa kan Mbak? Siapa tahu Raka termasuk sahabat yang sulit dicari itu!”
Dan Mbak Ratna harus menarik nafas panjang menghadapi sikap keras kepala adik kelasnya itu. Buat Tika, dibalik sikapnya yang cuek bebek itu, sebetulnya dia menghargai anak-anak rohis, dia bahkan ingin suatu hari bisa benar-benar menjadi salah satu diantara mereka. Tetapi, kalau itu berarti harus menjauhi Raka, kayaknya kok, nggak adil.
Agar tidak memutuskan hubungan persahabatannya dengan Raka, belakangan dia menyuruh cowok itu ikutan aktif di rohis. Minimal datang sebulan dua kali bertepatan dengan acara pengajian gabungan. Dan Raka menuruti permintaan Tika. Nah, kalau sekarang mereka pura-pura pacaran? Kan berabe?
Raka masih menunggu jawabannya.
“Mau, ya? Cuma pura-pura ini!”
Meski masih ragu, Tika akhirnya mengiyakan. Mungkin nggak buruk-buruk amat kali, ya?
Maksud Tika, seneng juga kan bisa ngerjain temen-temen mereka yang selama ini suka ingin tahu. Wajah kocaknya muncul.
“Sebetulnya .. kenapa sih, orang harus pacaran, Ka?”
Raka menggeleng lagi. Gimana, setuju nggak?! Dan sore itu mereka akhirnya sepakat pura-pura jadian. Pacaran!
Berita peresmian hubungan mereka berdua, memang tidak terlalu mengejutkan. Banyak teman yang mengira selama ini mereka memang pacaran. Cuma masalah waktu sebelum diproklamirkan. Dan mereka gembira, karena Tika dan Raka amat kelihatan serasi. Satu-satunya yang bersedih adalah kelompok anak-anak rohis. Termasuk mbak Ratna.
Sebetulnya Tika mau menjelaskan, bahwa semua itu cuma pura-pura. Bahwa persahabatannya dengan Raka masih sebening dulu, tetapi Raka melarangnya.
“Nggak usah deh, Tik! Nanti malah bocor sama teman-teman yang lain!”
Ya sudah, akhirnya dia memilih diam.
Terus, adakah yang berubah dalam hubungan mereka berdua? Sebagai pacar (pura-pura), Raka merasa harus melakukan apel alias wakuncar tiap malam Sabtu. Juga mengajak Tika ke tempat-tempat yang lebih romantis. Nonton misalnya.
Di hadapan teman-teman lain, Raka juga berusaha agar terlihat lebih mesra. Sesekali dilingkarkannya tangannya ke bahu Tika, atau menggandeng tangan gadis itu.
Sebetulnya sih, sebelum perjanjian ini, Tika merasa biasa-biasa saja jika terjadi kontak fisik dengan Raka, tapi sekarang rasanya kok, jadi beda. Apa Raka merasakan hal serupa? Tika nggak tahu.
Buntut-buntutnya, Tika merasa agak malas jalan bareng Raka yang lebih romantis itu tidak membuat perasaannya nyaman. Bahkan, seakan mereka tidak lagi cuma pura-pura. Tidak ada lagi dialog-dialog santai. Raka juga memintanya tampil lebih feminin jika mereka bepergian, katanya biar nggak dikira jalan sama teman atau adik.
Gadis tujuh belas tahun itu akhirnya merasa terikat dan banyak diatur oleh Raka. Dan sekarang Raka menunggunya di bawah. Apa yang sebaiknya dia lakukan, ya? Menghilang?
Hus! Tika kan bukan nenek sihir! Panggilan Mama berkali-kali tak dihiraukannya. Dan, ketika Mama muncul dikamarnya, dia tak bisa menghindar.
“Aduh .. anak manis! Ditunggu Raka di bawah kok, diam saja! Katanya mau ke ulang tahun teman?!”
Tika tak bergerak. Masih meringkuk di bawah kemulan hangat selimutnya.
“Tik .. Tika.. kamu nggak apa-apa kan?”
Pertanyaan Mama malah memberi ide padanya,”Kayaknya Tika nggak enak badan deh, Ma!”katanya.
Lho? Gantian Mama yang bingung. Sebab seharian ini, anak itu kelihatan lincah-lincah saja. Jangan-jangan ada hubungannya dengan Raka sebelum cowok itu datang, putri tunggalnya itu kelihatan sangat sehat dan bersemangat.
“Tik .. kalau kamu memang sakit, nggak masalah. Mama bisa kasih pengertian kepada Raka. Tapi .. kalau kamu melakukan ini karena punya masalah dengan Raka sebaiknya diselesaikan. Jangan dihindari!”
Hmm .. tampaknya pendapat Mama ada benarnya. Berpikir begitu, membuat Tika bangkit dari tempat tidurnya. Gadis manis itu mulai bersiap.
Pesta ulang tahun teman sekelas Raka sama sekali tidak menarik minat Tika. Gadis itu lebih banyak melamun selama acara berlangsung. Hatinya sebal karena sikap Raka yang jadi berlebihan dimatanya. Berlagak mesra, ihh!
Kenapa ya, si Raka seperti menjiwai banget? Padahal mereka kan cuma pura-pura pacaran?
Syukurlah, akhirnya Raka ikut menyadari dan mengajak Tika pulang lebih cepat. Meski sebetulnya dia lebih suka berada di sana lebih lama dengan Tika.
“Tik, mampir ke Pak Kumis dulu, ya? Mama tadi nitip bakso.” Suara Raka diselingi getaran mesin mobil. Tika yang sudah tidak bersemangat hanya mengangguk.
Sambil menunggu pak Kumis membuatkan bakso, baik Raka maupun Tika tak banyak bersuara. Mereka menikmati kediaman yang tiba-tiba terjadi. Lalu, tanpa ditebak sebelumnya, Raka meraih kedua tangan Tika dan menatap gadis itu tajam. Mau nggak mau Tika jadi salting!.
“Ka .. kenapa sih?”suara Tika heran.
Raka tak menjawab keheranan Tika. Cowok itu sendiri tak mengerti kenapa dia bersikap demikian. Yang dia lakukan cuma menuruti dorongan hati. Tiba-tiba saja dia merasa ingin dekat dengan Tika, ingin menyentuhnya. Lalu sekali lagi, dorongan hati itu pula yang membuat Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Tika.
Mendapat agresi yang tiba-tiba .. Tika hampir menjerit.
Wahh, kacau, Raka seperti kehilangan kontrol dan ketenangan yang selama ini dimilikinya. Sekuat tenaga gadis manis itu mendorong Raka. Langkah berikutnya? Tika kabur, berlari menjauhi mobil sohib baiknya itu. Meninggalkan Raka yang termangu di dalamnya. Masa bodoh! Lebih baik dia naik bis pulang, daripada bersama Raka dengan sikap anehnya itu!
Di dalam bis patas AC, gadis itu merayapi jalan-jalan yang dilaluinya. Sementara hatinya merenungi jalinan persahabatan yang telah dibinanya sekian tahun bersama Raka. Seharusnya mereka cuma bersahabat, selamanya sahabat. Kenapa jadi begini?
Tika mengoreksi dirinya. Benarkah mustahil bersahabat dekat dengan lawan jenis tanpa pamrih? Tanpa harus menjurus-jurus dalam kedekatan antara cowok dan cewek? Sepenuhnya persahabatan yang bening?
Ahh barangkali perkataan Mbak Ratna benar. Hal itu amat sulit ditemui! Buktinya, Raka yang telah tahunan dikenalnya bagai mengenal telapak tangannya sendiri bisa berubah. Bisa kehilangan kendali. Bisa tergoda setan?!.
Kalau hal serupa terjadi lagi, akan cukup beruntungkah dia menyelamatkan diri? Menjaga kehormatannya sebagai Muslimah seperti sering didengarnya dalam kajian-kajian rohis?
Saat kata Muslimah itu bergaung di telinganya, Tika melihat bayangan dirinya di kaca jendela.
Muslimah! Mulianya kata itu! Sungguh amat tak pantas disandangnya setidaknya saat ini.
Tika melirik bajunya yang minim memperlihatkan jenjang kakinya yang telanjang. Lalu belahan dada yang rendah. Rambutnya yang dirangkai ke atas, membuat leher jenjangnya terlihat jelas.
Barangkali tidak sepenuhnya salah Raka! Cowok itu cuma memanfaatkan kesempatan! Tapi Dia? Dia merencanakan seluruh detail penampilan yang menggoda ini. Layak kah dia berjejer bersama Muslimah lain dengan keanggunan mereka? Dengan jilbab rapi membalut tubuh?
Ahh tiba - tiba Tika ingin menangis.
Bis yang ditumpanginya tetap bergerak, seiring dengan malam yang terus merayap pelan. Sementara itu Tika membiarkan air mata kesadaran membasahi kedua pipinya. Mulai besok dia akan berubah. Ya, dia akan menjadi Muslimah yang lebih baik. Batin Tika berkali-kali dengan wajah basah air mata.
Ketika akhirnya bis yang ditumpanginya berhenti di depan rumah, butiran bening itu masih mengalir deras. Tika sama sekali tidak berusaha menghapusnya. Karena dia tahu, tiap butir air mata yang jatuh .. menyiratkan hasrat dan semangat untuk hijrah!!!
Selengkapnya...
Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.
Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.
Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!
Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!
Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.
Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.
Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.
Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!
Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti berbisik. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. Aku pun menurut. Kudekati dia. Kuamati orang itu. Dari tempias cahaya lampu, tampak wajahnya lebih tua dari usianya, penuh kerut-merut. Melihat urat-uratnya, ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Aku tahu itu, karena dulu, aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai, sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku.
Ya, Tuhan, dia menangis. Baru kali ini ada calon maling begitu cengeng. Tapi sebentar... tangisnya sangat dalam. Ya sangat dalam. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Tapi, aku selalu waspada. Siapa tahu itu tangis buaya. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau, dan siap dihunjamkan di perutku. Maka, kuambil jarak beberapa depa. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir aku terpaksa tidak bisa terharu).
Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihal lain? Tapi, sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi, aku berani menyimpulkan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Entah kenapa, naluriku memaksaku berpikiran begitu.
Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku, mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. Kukibaskan ekorku, mengenai kakinya. Dia memandangku. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. Rupanya ia tanggap. Ia pelan-pelan bangkit, menyiapkan berbagai peralatan, ada besi pengungkit, drei, pukul besi, alat pemotong besi, alat pemotong kaca, linggis kecil dan masih banyak yang lain. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya menjadi maling beneran. Maling pun tetap harus serius, agar tidak konyol dicincang massa.
Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. Hujan turun makin deras. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku, namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya.
Tidak lebih dari lima menit, orang itu telah keluar membawa bungkusan. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji, hand phone, atau benda lainnya. Dengan langkah yang gagah, ia menjumpaiku. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Aku menunduk. Perasaanku campur aduk. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. Orang itu merasa serba salah. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Tapi aku menolak dengan halus. Ia mencoba memberiku segumpal daging. Dengan bahasa isyarat, ia meyakinkan bahwa daging itu murni, bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. Tapi aku merasa kehilangan selera makan.
Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. Istri tuanku menjerit-jerit histeris, sambil menyebut kalung berliannya yang hilang. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar, diiringi letusan senapan yang membabi buta. Kata “maling” diteriakkan berulang-ulang. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku, dan berharap ia segera berlari. Ia tampak panik, dan canggung. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Aku sangat panik. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. Senapannya terus menyalak. Aneh, maling itu tetap diam. Aku memaksanya lari. Tapi iahanya berlindung di balik pohon rambutan. Sial, muncul kilat. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Orang itu tumbang, rebah ke tanah. Muncrat darah merah dari dadanya. Aku menggonggong sangat keras. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Aku menggonggong makin keras. Makin keras, hingga orang-orang pun keluar rumah. Mereka mengelu-elukan aku. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku... Mata maling itu tetap saja melotot, seperti menatapku. Aku masih mendengar tangisnya, tangis anak dan istrinya. Tangis itu sangat panjang dan dalam, penuh kesunyian.
Oleh Indra Tranggono
Selengkapnya...
Tadinya mereka tidak terlalu rusuh dengan kehadiran ibu tua itu. Sebagai seorang anak yang dilahirkan dari rahim ibunya, Hasan tidak tega membiarkan ibunya hidup terpisah semenjak bapak Hasan meninggal. Istrinya juga tidak keberatan, apalagi perempuan itu merasakan sangat besar kegunaan mertuanya di rumah. Ibu itu masih bisa membantu-bantu pekerjaan rumah tangganya sehingga tertolong sedikit meskipun dia tidak punya pembantu.
Namun semenjak hamilnya makin besar dan dilihatnya si ibu mertua tambah mendecing-decing batuknya, dadanya kian kempis dan pernah memuntahkan darah, Nazulah mulai bingung. Kalau ibu yang sakit paru-paru itu tidak segera diungsikan,maka iakhawatir penyakitnya akan menular dan membahayakan anaknya yang akan lahir.
Maka, setelah merasa hampir dekat melahirkan, Nazulah berkata kepada suaminya, “Bang, sakit Ibu ternyata penyakit yang menular. Jadi kita harus mencarikan jalan supaya anak kita nanti jangan bergaul dengannya.”
“Hasan kaget mendengar bicara istrinya ini. “Maksudmu?”
“Kita harus berpisah dari Ibu,” jawab Nazulah.
Hasan termenung mendengar permintaan istrinya. Sebetulnya ia merasa berat terhadap ibunya. Namun, karena Nazulah mendesak terus dan ia menganggap alas an istrinya cukup kuat, terutama demi anak mereka, maka Hasan membuat gubuk kecil di pekarangan belakang rumah. Dengan perasaan yang masygul ia menyuruh ibunya pindah, tinggal di gubuk itu.
Ibu itu adalah seorang mertua dan nenek yang baik. Ia tahu diri. Ia menganggap umurnya adalah sisa-sisa kesenangan hidup yang pernah dinikmatinya. Maka tanpa sedih sedikit pun ia pindah ke gubuk itu.
Mula-mula segala kebutuhan perempuan itu masih diperhatikan sekali. Namun, sesudah anak mereka makin besar, Hasan dan istrinya hanya mengingat Maqbulah, anaknya. Seluruh perhatiannya Cuma ditumpahkan kepada anak yang manis dan pintar itu. Sampai nasib ibu tua yang di gubuk itu sering terlantar. Piring dan gelas buat makan atau minumnya sudah lama pecah, tapi Nazulah lupa menggantinya dengan yang lain. Sehingga untuk makan dan minumnya si nenek terpaksa mencari tempurung kelapa.
Adapun Nazulah sama sekali melarang anaknya dekat-dekat dengan gubuk yang terdapat di belakang rumah. Dalam usia tiga tahun itu, Maqbulah tidak yahu bahwa yang tinggal di gubuk tersebut adalah neneknya sendiri. Seba ia akan dimarahi oleh bapak dan ibunya kalau bermain –main mendekati tempat itu.
Namun, pada suatu hari Maqbulah berhasil menyelonong ke sana, karena kebetulan hari itu bapak dan ibunya tidak di rumah. Dengan mengendap-endap ia mengintip melalui lubang pintu. Dilihatnya ada seorang perempuan tua sedang duduk di atas dipan rombeng. Rambutnya sudah putih semua dan badannya bungkuk.
Dasar Maqbulah seorang anak yang berani, menyaksikan pemandangan itu bukannya takut, malah dia gembira. Dengan mulutnya yang kecil itu ia memanggil-manggil.
“Nek, nenek tua, bukakan pintu, Nek.”
Alangkah gembiranya wajah nenek itu di dalam gubuknya. Tiba-tiba darah segar membesit memerahkan warna mukanya. Matanya bersinar lantaran suara itulah yang selama ini di rindukannya. Sambil terseok-seok ia berjalan ke pintu, lantas di bukanya.
“Siapa kamu, Nak?” tanya nenek itu.
“Bulah,” jawab si gadis cilik.
“Oh, cucuku. Dimana bapak dan ibumu?”
“Pergi,” sahut Maqbulah.
“Pergi kemana?” tanya si nenek tambah gembira.
“Jauh,” jawab Maqbulah. “Saya ingin masuk, Nek.”
Betapa bahagianya nenek itu dapat menggandeng cucunya memasuki gubuk tersebut. Hingga tengah hari Maqbulah bermain-main di situ. Rupanya anak kecil itu haus. Ia merengek kepada neneknya, “Nek, minum.”
Si nenek mengambil tempurung kelapa. “Nenek tidak punya gelas. Nenek hanya punya itu buat minum.”
Gadis cilik itu heran. “Memang nenek ini siapa sih, tidak punya gelas?”
“Aku adalah nenekmu, ibu dari bapakmu.”
“Kenapa tidak punya gelas?”
“Orang tua tidak boleh pakai gelas.”
Demikianlah, ketika sudah puas bermain-main di situ, Maqbulah permisi pulang. Untung waktu itu Hasan dan istrinya belum kembali. Jika sudah, pastilah si nenek yang akan di marahi. Peristiwa itu sudah dua hari terjadi tatkala mereka bertiga berjalan-jalan melihat kota.
Pada suatu tempat di pinggir jalan, ada selokan kotor. Di dalam selokan tersebut ada sebuah tempurung kelapa yang tersangkut di pinggir. Melihat tempurung ini Maqbulah memaksa-maksa minta diambilkan. Setelah Hasan mengambil tempurung itu dan dibersihkannya, Nazulah bertanya kepada anaknya, “Buat apa Bulah meminta tempurung?”
Tanpa berpikir si cilik menjawab, “Bakal tempat minum Ibu kalau Ibu sudah tua.”
Terkejut Hasan dan istrinya mendengar jawaban ini. Mereka bertanya, “Mengapa begitu?”
Maqbulah menjawab, “Nenek Bulah yang tinggal di gubuk itu juga di kasih makan dan minum pakai tempurung. Entar kalau Bulah sudah besar dan Ibu sudah tua, Bulah akan kasih tempurung buat Ibu dan dibikinkan gubuk jelek buat ibu.”
Mendengar jawaban ini sadarlah Hasan dan Nazulah akan kelakuan mereka. Tiba-tiba mereka takut akan anacaman Tuhan bagi anak-anak yang durhaka. Maka semenjak itu berubahlah sikap mereka terhadap orang tuanya. Diajaknya nenek itu berkumpul kembali bersama mereka di dalam rumah yang terhormat, sambil diberi perawatan dan pengobatan agar penyakitnya sembuh.
Dengan demikian terhindarlah keluarga itu dari malapetaka di belakang hari kalau sampai mereka tidak berhenti dari perlakuan durhaka terhadap orang tua sendiri. Dan yang menyadarkan mereka justru seorang anak kecil yang manis, sebab anak kecil ini telah dididik dengan akhlak yang baik sesuai dengan ajaran agama. Berarti agamalah sebetulnya penyelamat yang pasti bagi kehidupan agar senantiasa sejatera.
Selengkapnya...
CERITA HATI
Tulisan Sebenarnya sih, sekitar 2 tahun sejak aku berbusana muslimah, di diary-ku nggak pernah ada lagi cerita tentang mahluk yang bernama cowok itu kecuali ayah, kedua abangku dan pak Jon, guru fisikaku yang bijak sehingga membuat kami senang belajar. Aku kan sudah tahu bahwa Islam memang membatasi hubungan 'antar jenis' yang bukan mahrom. Jangankan memandang sampai lama, baru liat sebentar aja, sudah harus dipalingkan. Soalnya, pandangan itu salah satu sarana panah syetan, ih serem lah yaw. Jadi mendingan aku memilih menundukkan pandangan dalam bergaul dan di setiap
kesempatan belajar yang disampaikan guru pria. Memang susah sih, malah aku suka dibilang sombong, nggak sopan atau kurang pede karena nggak menatap lawan bicara tapi alhamduillah kebanyakan dapat berjalan lancar kembali setelah kuberi penjelasan.
Tapi setelah Anya sering cerita tentang kak Tara, aku jadi penasaran. Hingga tadi, ketika ia sedang dengan santai menjelaskan tentang penggunaan proposisi, kualihkan pandanganku lekat-lekat dari ujung rambut ke ujung kaki eh sepatunya. Dan ketika kembali aku memperhatikan ke atas, ternyata ia pun sedang melihat ke arahku, kok aku jadi dag dig dug ya, senyumnya itu lho, manis syekalee...
Di perjalanan pulang Anya mulai lagi, padahal metromini yang kami tumpangi lumayan sarat penumpang. Biasa, jam-jam segini sebagian pekerja memang banyak yang sudah buyar dan puncaknya adalah sekitar pukul 17.30 nanti ketika bubarnya anak sekolah. Tapi alhamduillah, tidak lama kami berdiri ada dua orang yang turun dari bangku yang bersebelahan. Dengan semangat, kami langsung mendudukinya, takut keduluan yang lain.
"Gimana Ui, Ok, khan?" begitu cowok idealku, pinter, ganteng, trendy dan nggak tingkah macem-macem. Kata mas Aryo, dia anak teknik UI, baru tingkat tiga. Nggak kayak kedua mas-mu, pinter sih pinter, kece juga, tapi dandanannya nggak tahan, kayak remaja zaman 'rikiplik' kemeja panjang plus celana warna belel, begituuuu melulu." Entah apa yang mendorong Anya melibatkan abang-abangku dalam teorinya. Bukan su'udzon, Anya memang pernah kecewa mas Fahmi. Aku tersenyum juga dan diam agak lama. Kurasakan lagi bagaimana aku kecipratan 'bara' perbuatannya. Ah...andai ia seorang pedagang minyak wangi.
Anya memang pernah ikutan ngaji denganku sekitar dua taun lalu ketika kami sama-sama menjadi anak baru di SMU ini. Rupanya dia hanya tahan sampai beberapa kali saja, karena ia merasa sudah terlalu banyak kegiatan. Toh di sekolah juga sudah mendapatkan pelajaran agama katanya, setelah sering kuingatkan betapa pentingnya belajar Islam. Bagai bertepuk sebelah tangan memang mengajak orang yang tidak mau. Hanya kadang jika ada kegiatan besar Rohis sekolah kami, ia mau ikut membantu. Juga jika kuajak untuk menghadiri ceramah umum atau seminar sesekali ia mau juga ikut. Ia mungkin hanya sungkan padaku karena sampai detik ini kami masih bersahabat dekat. Ia masih sering mengadukan segala keluh kesahnya padaku, walaupun aku kian jarang berbuat hal yang sama padanya karena aku sudah memilih sahabat-sahabat yang lebih kupercayai.
"Ingat nggak Ul, waktu kita basah kuyup kehujanan karena nggak bawa payung, dia sempat-sempatnya memberi perhatian dan menawarkan jaketnya untuk kupakai. Dia naksir aku apa kamu ya Ul?"
"Jangan ge-er gitu dong an, kan bukan kita aja yang dia perhatiiin, semua juga...."
"Tapi sama kita rada privat lho Ul, aku liat cara dia memandang kamu tuh nggak lain, lagian mana ada dia nraktir teman-teman yang lain, walaupun akhirnya pizzanya kamu kasih pengemis karena kamu lagi puasa."
"An, Pak Jon ulanganya sampe bab berapa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku kuatir tertular ke-ge-er-nya. Bukannya nggak suka lawan jenis, tapi aku tadi kan sempet deg-degan, tapi aku masih menyadari hal itu tidak boleh berlanjut.
"Sampai bab tiga, mudah-mudahan nilai fisika kita bisa sembilan lagi ya Ul, kalo perlu sepuluh karena kita sudah kelas tiga biar bisa masuk teknik IU, nanti kan bisa jadi adik kelasnya kak Tara" sahut Anya. Ampun nih anak, nyambungnya ke situ-situ lagi. "Siap-siap turun yuuk! udah dekat tuh" kataku sambil bergegas menuju pintu bus. "Anggrek kiri bang!" pintaku pada kenek.
"Mas, kalo buah tomat dan apel disilangkan hasilnya jadi lucu dong ya? Tanyaku pada Mas Fahmi di suatu sore sambil asyik menyirami taman buah hasil eksperimen mas-ku yang anak pertanian itu di halaman belakang rumah kami.
"Lucu, gimana, lha wong aku aja belum pernah tahu kok!" sahutnya. "Ya lucu dong, kan jadi buah tompel namanya heeeee"
"Iya lucu, apalagi liat usaha kamu ngelucu.." katanya sambil tertawa. "Eh kamu masih dekat ama Anya, ya Ul?" tanyanya kemudian.
"Masih mas, kita duduk sebangku malah. Les Inggri juga bareng, kenapa mas?" tanyaku heran.
"Kok, kayaknya dia nggak banyak berubah ya, Ul. Mas perhatikan malah kamu yang agak berubah, menasehati mas biar agak trendy lah, suka melamun, qiyamul lail susah dibangunin ...bukannya mas mau menyuruh kamu untuk sama sekali menjauhi dia, tapi Ulfa harus membatasi diri jangan sampae dekat dengan dia seperti dulu. Jika kita ingin mengetahui seseorang, kita tinggal liat siapa teman-teman dekatnya kan?" Mas fahmi berbicara panjang lebar dan datar. Seperti biasa hampir tak pernah ia menunjukkan perkataan atau perbuatan yang menunjukkan emosi. Akhir-akhir ini aku memang suka melamun dan paling sering melamun kak Tara.
"Iya mas, sebelumnya Ulfa sudah mempertimbangkan ketika memutuskan untuk tetap dekat dengannya. Habis Ul khan sayang sama dia. Ul juga ingin dia merasakan indahnya Islam, tapi yaa... mungkin Allah belum menghendaki, malah Ul yang masih suka terpengaruh dia, Ul akan berusaha memperbaiki deh mas" janjiku.
Tiba-tiba kami mendengar suara heboh di garasi. Rupanya ayah, pakde dan bude Ahmad, serta Mas Hafidz yang jadi sumber kehebohan itu sudah tiba. Pintu pagar rumah kami memang tidak terkunci.
"Ulfa, Fahmi! ada kabar baik nih!" seru mas Hafidz. abang tertuaku yang kocaknya minta ampun, ia baru bekerja sejak tiga tahun yang lalu walaupun baru pekan lalu diwisuda.
"Eh, dengar ya, aku Insya Allah mau nikah lusa! Tadi lamaranku diterima, hee..hee akhirnya"
"Ih mas Hafidz norak!" komentarku gregetan melihat tingkahnya yang konyol.
"Jangan gitu dong say, paling enggak kan aku nggak cuma sedang mengharapkan janji Allah tentang bidadari di surga, tapi dihadapan mata. Ayo fahmi, kapan kamu nyusul?"
"Mas Hafidz, mas Hafidz ... paling bidadari juga nggak ada yang mau sama kamu .."ledek mas Fahmi, "Lagian, nikahnya aja belum, aku sudah disuruh nyusul ... ada-ada saja..." lanjutnya diiringi derai tawa kami.
Aku mulai mencoba jarang berinteraksi dengan Anya walaupun masih duduk sebangku. Di OSIS, ke bimbel, les dan sebagainya. Istiqomah menggenggam Islam memerlukan pengorbanan, untuk itu aku harus bersahabat dengan orang-orang yang dapat membawaku terus berpijak di sana. Senyum yang menurutku termanis milik kak Tara padaku ketika terakhir les pun sedang berusaha aku lupakan. Kini aku telah pindah les ke sebuah lembaga pendidikan Islam yang memisahkan pelajar putra dan putrinya. Di sana aku merasa lebih nyaman karena pengajarnyapun memiliki akhlak yang Islami juga. Kiat mas Hafidz untuk selalu bersabar menghadapi godaan seperti itu juga sudah aku terapkan. Masak sih nggak ada bidadara yang mau sama aku, hee.......
Kututup diary hijau mudaku. Kupejamkan mata sambil berdoa untuk keselamatan kami dan Anya.
sumber : ga tau
Selengkapnya...
Hanya 30 detik, yang anda harus lakukan :
ikuti semua instruksi, lakukan dan jawablah semua pertanyaannya.
Jangan lihat kesimpulan akhir sebelum anda mencoba menjawab hitungan pertanyaan.
Pertama, Jawablah dengan jujur berapa kali anda bersyukur kepada Allah Sang Maha Pencipta.
Kalikan angka tersebut dengan dua (2).
Lalu di tambah dengan lima (5).
Kemudian ….Kalikan dengan lima puluh (50).
…………….tambahkan 1759.
Yang terakhir: Sekarang kurangkan dengan
bilangan tahun kelahiran anda (misal: 1941, 1973, dst…).
Sekarang anda akan menemukan
suatu angka ajaib dengan tiga bilangan
(3 digit)
Angka / bilangan pertama menunjukkan,…..
Berapa kali anda dalam sehari bersyukur kepada Allah akan segala nikmat yang diberikan kepada kita.
Gimana bener ..?
Lalu apa arti/kemungkinan lainnya ???
Dua angka terakhirnya adalah …
Umur Anda !!!! saat ini ( th 2009 )
… dengan renungan ini
SEMOGA MENGINGATKAN , APAKAH KITA PUNYA WAKTU UNTUK BERSYUKUR ATAS SEGALA NIKMAT YANG DIBERIKAN ALLAH PADA KITA SEMUA.
JUGA SEBAGI PERINGATAN BAGI KITA BAHWA, TIBA-TIBA SAJA UMUR KITA SUDAH SEKIAN TAHUN, TANPA KITA SADARI MENGALIR BEGITU SAJA… SALDO UMUR KITA DI DUNIA INI SEMAKIN BERKURANG DAN TERUS BERKURANG. SUDAH KAH KITA MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPI SAAT DIMANA KITA AKAN DIMINTA PERTANGGUNG JAWABAN APA YANG KITA LAKUKAN SELAMA KITA HIDUP ???
Bersyukurlah pada-NYA karena hingga saat ini kita masih diberi waktu dan kesempatan untuk memperbaiki dan mempersiapkan diri kita.
Dua nikmat dari-NYA, dimana manusia sering melupakannya, yaitu : nikmat SEHAT dan WAKTU LUANG
Maka manfaatkanlah waktu luang kita untuk banyak banyak bersyukur atas nikmat-Nya
==============================================
Selengkapnya...
Di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada
sang sapi
"Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi ke padang
rumput. Kau harus bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari.
Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun."
Sang Sapi keberatan "Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun.
Kiranya 20 tahun cukuplah buatku. Kukembalikan kepadamu yang 30
tahun"
Maka setujulah Tuhan.
Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah
manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!"
Sang monyet menjawab "What? Menghibur mereka dan membuat mereka
tertawa?
10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padamu"
Maka setujulah Tuhan.
Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. "Apa yang harus kau
lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau
harus
menggongongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!"
Sang anjing menolak : "Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ?
No way.! Kukembalikan 10 tahun padamu".
Maka setujulah Tuhan.
Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia. Sabda Tuhan: "Tugasmu
adalah makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan
menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!"
Sang manusia keberatan, katanya "Menikmati kehidupan selama 20 tahun?
Itu terlalu pendek Tuhan. Let's make a deal. Karena sapi mengembalikan 30
tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet
mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu
padaku. Semua itu akan ;menambah masa hidupku menjadi 70 tahun. Setuju ?"
Maka setujulah Tuhan.
AKIBATNYA..............................
Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan
bersenang-senang.
30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk
menopang keluarga kita, kadang menghabiskan waktu 8 jam di komputer
untuk bikin email nggak mutu. 10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat
cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet . Dan 10 tahun berikutnya
kita tinggal di rumah, duduk di depan pintu, dan menggonggong kepada orang
yang lewat...
Selengkapnya...
Cinta itu akan menjadi kematian bagimu, kalo kamu terperangkap olehnya.
Cinta bagai misteri datang dan pergi tanpa permisi.
Kamu tak perlu mencarinya karena cinta akan datang pada waktu yang tepat. Kamu tak dapat membelinya karena harga sebuah cinta sangatlah mahal
Cinta akan lahir pada saat yang tepat tanpa kita ketahui kapan, dan tanpa kita ketahui kepada siapa. Jika suatu hari pasangan anda mengatakan "Aku tak mencintaimu lagi", Let it go, walaupun practically susah bagi sebagian orang. Biarkan berlalu karena cinta tak dapat dipaksakan. Jika cinta dipaksakan cinta tersebut layaknya akan dapat meledak menjadi kebencian.
Let it go. Cinta akan datang kembali kepada kamu suatu waktu, entah kapan pokoknya pada waktu yang tepat menurut ukuran Tuhan. Tuhan tak akan membiarkan kamu sendirian.
Lalu bagaimana dengan perasaan kamu kalo kamu ditinggal ama cinta ?
Simpanlah dalam-dalam cinta tersebut. Kenanglah sebagai bagian dari pengalaman hidupmu. Menangislah jika perlu. Berbahagialah karena anda pernah dicintai, berbahagia karena cinta pernah ada di hatimu.
Bagi yang cowok jangan pernah jadikan kecantikan sebagai ukuran kamu untuk mencintai seseorang karena akan sangat gampang sekali membuat cinta terus menguasai dirimu. Jangan pula mudah terpengaruh oleh sifat dan sikap yang manis di luar karena belum tentu itu akan membuatmu bahagia. Sikap wanita yang manis tidaklah jaminan bahwa hatinya juga bersih. Dan wanita yang sedikit cuek tidaklah jaminan bahwa hatinya jahat. Tapi pandanglah jauh ke depan pikirkan baik-baik karena semua akan menyangkut masa depanmu. Karna baik dimata manusia belum tentu baik dalam pandangan Tuhan.
Bagi yang cewek jangan jadikan uang, kedudukan dan segala yang fana jadi titik point dari Cintamu karena akan sangat gampang sekali uang, kedudukan dan segala yang fana akan membutakan cintamu. Seolah-olah engkau hanya cinta akan uang, kedudukan dan segala yang fana daripada kamu sendiri merasakan cinta itu
Karena semua ke-fana-an itu akan hilang seiring dengan waktu. Bagaimana jika cinta hilang dalam sebuah perkawinan ? Dalam suatu perkawinan, cinta adalah cinta yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan kepada suami/istri dan kepada anak (jika ada). Kamu nggak bias pergi begitu saja dengan mengatakan "Aku tak mencintai kamu lagi."
Dalam sebuah perkawinan "ANDA" adalah dua menjadi satu "ANDA" adalah suami/istri dan kamu sendiri. Jangan turuti kemauan anda tapi turuti kemauan "ANDA". Bagi anda yang mencintai, ubahlah makna cinta menjadi KASIH.
Cinta itu bersemayam di dalah hati (bukan di otak atau pikiran), jika hati anda penuh dengan kasih, cinta tak akan pernah hilang dari diri anda.
Kasih itu sabar ; Kasih tidak cemburu ; Kasih menerima apa adanya dan memberi yang ada ;
Kasih itu komitmen sehingga seseorang yang memiliki kasih tak akan melupakan cintanya ;
Kasih itu mengampuni dan memaafkan : Kasih adalah Cinta Sejati karena berasal dari Tuhan. Tanamkan Kasih di hati anda sejak awal maka Cinta anda tak akan hilang
Tanamkan kasih maka kamu akan bertahan jika kekasihmu mengatakan, "Aku tak mencintaimu lagi" Berat memang, apalagi jika kita masih mengasihi dia. Jika kamu dan pasangan kamu memiliki kasih, kamu berdua boleh mengatakan : "Orang ketiga ? Siapa takutttt"
Segala perubahan butuh waktu. Lakukan-lah semuanya dengan kasih. Selamat mencoba dan sukses untuk anda.
Selengkapnya...
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya
seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s
(Nabi sulaiman saja sholat tepat waktu walau ia memiliki kerajaan yang luas)
Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah
lalu dia kata "Inna lillahi wainna illa ihi rajiuun." Lalu sambil
berkata,"Ya Rabbi Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir
senyuman.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak
lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu
menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sa mpai usia pertengahan namun
masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa
amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan saujana mata
memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa
amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak
karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa
neraka.
Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang tulisan ini begitu
saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain.
Selengkapnya...
Apa yang kita alami demi teman kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya...
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan
proses yang panjang. Seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat
menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman. Suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan
Dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur
Apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan
Dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah Kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Kerinduannya menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egois.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua Orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati Indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Beberapa hal yang sering menjadi penghancur persahabatan antara lain
:
1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit)
2. Ketidakterbukaan
3. Kehilangan kepercayaan
4. Perubahan perasaan antar lawan jenis
5. Ketidak setiaan.
Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya.
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. DALAM MASA KEJAYAAN, TEMAN-TEMAN MENGENAL
KITA. DALAM KESENGSARAAN, KITA MENGENAL TEMAN-TEMAN KITA.
Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa Yang berada di samping anda? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai? Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satu pun yang dapat anda berikan? Merekalah sahabat-sahabat anda. Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.
Selengkapnya...
Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.
"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang."
Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi," alasannya.
Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini."
Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?"
"Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal. "Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut."
Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat."
Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.
Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.
Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek:
"Ya Allah, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu."
Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya. Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak.
Ternyata memang hanya TUHAN yang tahu bobot sebuah doa.
KEKUATAN SEBUAH DOA Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu, kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang Anda kenal. Biarlah Tali silatuhrahmi ini tidak terputus, karena
"DOA ADALAH HADIAHTERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA. Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna
Selengkapnya...
Hati Seorang Ayah Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya,tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kianberkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan………………………..
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"
Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampanmenjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ? Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini. "Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akanberusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman,
teduh dan terlindungi.""Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula
untuk melindungi seluruh keluarganya."
"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yangberasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."
"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantangmenyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnyamatahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."
"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya."
"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesame saudara." "Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya.
"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."
"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang
bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."
"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia."
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri kamar Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. "Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."
Selengkapnya...
Kota Sukabumi sore ini seperti biasanya, macet, apalagi pada jam lepas kerja seperti saat ini. Pengguna jalan seolah ingin menguasai setiap jengkal bentangan jalan. Sikap semau gue dan juga jalan yang berlubang menambah deretan panjang penyebab kemacetan. Sore ini tepat di depanku, duduk seorang bapak separuh baya, dengan penuh kasih mengusap kepala anaknya yang berkali-kali menguap karena kantuk. Menurut taksiranku, si bapak berusia 56 tahun dan si anak sekitar usia kelas empat SD. Aku merasa
iri dengan kemesraan yang mereka pertontonkan
Pikiranku menerawang. Terlintas kembali perjalanan waktu yang telah kuhabiskan bersama Ayah. Aku masih ingat ketika suatu waktu, Ayah mengajakku mengunjungi rumah kakek yang jauh dari rumah kami. Ya, kakekku seorang petani yang sangat sederhana. Walaupun dengan ekonomi yang tidak menentu kakek berhasil mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan, mengantarkan mereka menjadi seorang guru. Padahal pada masa itu, pendidikan formal menjadi hal yang sangat istimewa dan mahal.
Ayah tunjukkan kepadaku bagaimana seorang anak harus bersikap terhadap orang tuanya. Ayah ajari aku, tentang bakti seorang anak kepada orang yang telah bersusah mendidiknya.
Ayah, masih ingatkah engkau? Saat usiaku baru lima tahun. Hari itu kita berdua, bersepeda tua yang Ayah miliki, kita lalui puluhan kilometer jalan yang membentang menuju rumah kakek. Susuri jalan berbatu dengan hamparan tanaman padi yang menghijau.
Aku masih sering tersenyum mengenangnya, ketika suatu waktu sekembali kita dari rumah kakek, sepeda yang kita kendarai dikejar kambing karena melihat sayuran yang kita bawa. Kita terjerembab ke sawah, dan kita tertawa bersama. Hhhh... alih-alih menghindari kejaran kambing, sayuran yang kita bawa tidak ada yang tersisa.
Ayah... ingin rasanya kuulangi kembali putaran waktu ke masa kecilku. Ingin rasanya kurasakan lagi keceriaan, ketika Ayah memintaku menginjak-nginjak punggungmu yang penat setelah seharian bekerja, tanpa tahu mengapa harus
kulakukan itu? Ayah... begitu sabarnya engkau, ketika mendengar celoteh rekan sejawat bahwa kita penghuni "pilla" -nyempil di sakola- (tinggal di rumah dinas) yang
abadi. Walaupun sebenarnya aku tahu, begitu besarnya harapan Ayah mempersembahkan kepada kami anak-anakmu rumah bagus yang kita idamkan. Tidak seperti rumah dinas yang kita tinggali, yang harus sering kita bersihkan lantainya dari runtuhan dinding yang mengelupas di sana-sini.
Alhamdulillah,
setelah 15 tahun jadi penghuni rumah dinas, kita bisa punya rumah sendiri, walaupun sangat jauh dari rumah ideal yang selalu kita perbincangkan.
Ayah berikan semua gaji yang tak seberapa di setiap awal bulan, demi pendidikan dan uang jajanku. Padahal aku tahu, engkau sering mengabaikan kebutuhanmu, engkau sering lupa untuk beli baju, sepatu dan tas yang akan kau pakai mengajar. Pernah suatu waktu kudengar murid-muridmu menertawaimu, karena tas, sepatu dan baju yang kau kenakan selalu yang warna biru, karena hanya itulah yang kau punya. Ayah tidak pernah malu, pergi mengajar bersepeda walau murid-muridmu sering mencemoohmu, bahkan sampai kini, ketika sepeda motor murah banyak ditawarkan di berbagai iklan. Aku tahu, engkau ingin sekali suatu waktu pergi mengajar dengan langkah ringan tanpa susah payah mengayuh sepeda yang kau kendarai. Tapi demi aku, demi anak-anakmu, Ayah relakan hidup bersahaja, hidup berdua bersama ibu dalam kesederhanaan.
Delapan tahun sudah kita tidak serumah, sejak aku memulai kuliah di kota ini. Aku rindu ayah... setelah kemesraan kita seolah sirna, karena kesombonganku yang jarang menjenguk Ayah dengan alasan sibuk bekerja, tidak betah dengan cuaca yang panas atau beribu alasan yang menghambur dari mulut ini. Padahal, cukup dengan tiga jam saja waktu yang mesti kulalui, perjalanan untuk menemuimu.
Ayah... dalam kesendirian hidupku di kota ini, aku rindu teriakan Ayah ketika menegurku untuk segera mandi dan berwudhu saat waktu shubuh tiba. Aku rindu untuk mendengar cerita masa kecil Ayah saat menggembala kerbau, mandi
di sungai atau tentang kegiatan Ayah menghabiskan hari bulan ramadhan di surau mengkaji ilmu agama. Aku rindu dengan nasihat Ayah yang selalu menyejukkan. Masih selalu terdengar kata-kata Ayah ketika aku sering menangis karena dijahili teman-teman sekolah, "anak laki-laki harus tangguh!".
Ayah... aku yakin Ayah pasti lupa dengan kelancangan kata-kata yang menghambur dari mulutku yang busuk ini, kedurhakaan sikapku terhadapmu selama ini, dan Ayah pasti telah lupa dengan perilaku yang selalu
menyakitkan hatimu.
*************************************************
Sahabat, waktu terus berlalu, kita sering tidak sadar, bahwa setegar apapun Ayah kita, mereka manusia biasa, yang selalu butuh tegur sapa dan canda kita, hanya untuk sekedar melepas ketegangan karena masalah yang selalu menghampiri. Kita sering tidak sadar, perhatian berlebih yang semestinya
kita berikan kepada orang tua terus berkurang tergerus oleh aktivitas yang menyibukkan.
Bersyukurlah bagi kita yang masih mempunyai orang tua yang lengkap, yang masih menyertai kita melewati hari-hari kehidupan ini. Karena ada di antara kita yang telah lama ditinggal orang tuanya, mendahului menghadap-Nya atau
karena alasan lain, bahkan ada sahabat kita yang tidak pernah tahu, siapa ayah-ibunya. Ayo ah, jangan tunda lagi untuk memberikan pengabdian yang terbaik untuk mereka. Karena kesuksesan mereka sesungguhnya adalah kesuksesan membesarkan kita, kesuksesan manakala setiap sisi kehidupan kita selalui dihiasi oleh perilaku yang Rasulullah contohkan, berkata dan berbuat hanya mengharap ridha Allah Swt.
Ya Allah limpahkan kasih-Mu ya Muhaimin.
Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang yang telah mereka curahkan. Mereka akan terus dan terus mendoakanku dalam sujud malamnya, dalam derai air mata pengharapannya, demi kesuksesan dunia akhiratku.
Ya Allah... muliakan mereka di sisi-Mu wahai Maha Pemberi Rahmat,
*************************************************
Ayah, setahun lagi usai sudah tugas formalmu mengabdi demi kecerdasan anak-anak negeri ini. Semoga derap langkah dalam mengisi hari tuamu, selalu dihiasi dengan munajat dan keikhlasan dalam beramal dalam rangka menjemput kematian yang khusnul khatimah, Amiin... semoga.
Panorama turun? Aku tersentak, ehm... sudah maghrib nih. Bergegas aku berlomba dengan para jamaah pengajian, memburu mesjid terdekat untuk segera
memenuhi panggilan-Nya.
(Spesial untuk seorang Rosi (ochie) yang senantiasa menantikan kasih sayang ayah,
semoga dalam penantian ini, semakin mendekatkan kepada Allah. Yakinlah! Allah tidak akan pernah menzhalimi hamba-Nya)
Selengkapnya...
Di dalam dunia ini mungkin ada satu hal yang disebut kebenaran.
Mungkin ada banyak orang yang berusaha untuk senantiasa mencari kebenaran.
Mungkin ada yang suka bertualang untuk mencari kebenaran.
Berpikir begini dan begitu.
Berpikir ini lebih baik dari yang lain...
Mencoba menelaah
Apakah ini lebih benar?
Kawan...
Aku mengaku disini
Aku bukan seorang yang pandai dan tahu banyak hal.
Aku juga bukan seorang cerdas yang bisa benar-benar paham arti kebenaran.
Aku tidak tahu banyak.
Sedikit sekali...
Aku belum benar-benar paham tentang makna sebuah kebenaran
Namun satu hal yang aku tahu
Dan aku percaya
Bahwa
Di dalam kebenaran pasti ada kasih
Di dalam kebenaran pasti ada damai sejahtera
Di dalam kebenaran pasti tak ada kecurigaan
Di dalam kebenaran pasti tak ada kebencian
Di dalam kebenaran pasti tak ada ajaran untuk merendahkan ajaran lain
Di dalam kebenaran tidak ada doktrin untuk meninggikan kebenaran itu sendiri.
Apakah kebenaran namanya kalau disitu kita malah kita curiga pada golongan lain?
Apakah kebenaran namanya kalau kita malah bersikap ekstrem dan menolak pandangan lain?
Apakah kebenaran namanya kalau aku tidak melihat buah-buah baik terpancar dari dalamnya?
Yang pasti kebenaran absolute hanya ada dari tuhan YME, karena di dunia ini kebenaran dapat di bolak-balik
http://napasbidadari.blogspot. com
Selengkapnya...
Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting.Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi
kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Jawabnya, "Bukan. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti."
Beberapa tahun kemudian sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak mjawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini akumemberitahukannya, "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."
Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta. > > Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena
Itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku
Ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek. Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?" > > Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku. Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan
Ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar- benar"hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan
Kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuhn dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu." Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?" Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang
Teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku Cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati Terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan... Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan... Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.
Selengkapnya...
